Kereta Api di Jepang (bag.1)

Jepang, selain dikenal dengan sakura, gunung Fuji, dikenal pula dengan fasilitas kereta apinya yang apik. Kereta api Jepang memiliki kualitas setara dengan fasilitas serupa di negara Eropa. Bahkan dalam hal tertentu fasilitas kereta api di Jepang jauh melampuai Barat yang dahulu mengajarinya membangun sistem kereta api.

Bagi saya pribadi, kereta api adalah obyek termudah untuk mengetahui tingkat kemajuan suatu negara, tak terkecuali Jepang. Kalau ingin lihat canggihnya Jepang lihatlah kereta apinya. Kalau ingin lihat modernnya Jepang, lihatlah keretapinya.

Oleh karena itu disini saya mencoba menuliskan beberapa aspek terkait ka Jepang dan kemajuannya dari sudut pandang saya. Semua yang saya tulis akan saya usahakan selalu mengacu pada pengalaman yang langsung saya rasakan dengan tidak menutup melengkapinya dengan informasi dari luar diri saya semisal dari internet, data-data tertulis dan lain-lain.

Bagi saya ada tiga aspek besar untu menilai kemajuan atau kecanggihan sistem perkeretaapian. Ketiganya harus dilihat tanpa meninggalkan salah satunya. Kesempurnaan ketiganya menandakan kesempurnaan fasilitas ka tersebut. Tiga aspek tersebut adalah:

  1. Fasilitas
  2. Layanan
  3. Masyarakat, budaya konsumen
  1. Fasilitas

Dilihat dari sisi fasilitas, atau bahasa sekarang mungkin dapat disebut dengan “infrastruktur”, ka Jepang dapat dikatakan mendekati sempurna. Kalau ditempatkan dakam range nilai 1-10, bisa dikatakan ka Jepang ada pada nilai 9 atau mungkin malah 10. Perfekcto!

Saya mungkin berlebihan, karena terus terang saya membandingkan Jepang dengan Indonesia. Sementara, kalau mau fair harusnya membandingkannya dengan Eropa. Masalahnya saya belum pernah sama sekali lihat dan merasakan sistem ka yang ada di Eropa. Tapi saya yakin dibandingkan dengan eropa sekalipun, ka Jepang masihlah lebih unggul.

Baiklah langsung saja. Dari fasilitasnya, kehebatan ka Jepang, yang pertama:

  • kuantitas dan kualitas keretanya canggih. Maksudnya jumlah, dan jenis kereta Jepang beragam dan banyak, setelah itu kualitasnyapun baik dan canggih.

Di Jepang kereta beragam jenisnya. Bisa dilhat dari kecepatanya, jangkauannya, sistem operasinya dst. Dari sisi kecepatannya sajalah, misalnya kereta paling cepat, yang populer adalah: shinkansen, kereta listrik biasa, kereta bawah tanah, monorail, trem, dan kereta tradisionil. Sebenarnya masih ada satu lagi, yang sebentar lagi akan dikomersilkan secara umum yaitu bernama: maglev. ka ini disinyalir akan menjadi ka paling cepat diantara semua.

Mulai dari shinkanse, info ka ini telah banyak ada di internet, silahkan bisa cari sendiri. Namun ada info yang jarang disampaikan dan jarang diketahui juga, adalah bahwa shinkansen ada ka yang memiliki jalur khusus, atau rel khusus yaitu rel shinkansen. Artinya tidak tercampur dengan ka listrik biasa, yang memiliki jalur sendiri pula.

  • Jaringannya luas

Hampir seluruh kepulauan Jepang, yang jumlahnya ada 5 sudah terdapat jaringan ka, kecuali pulau paling selatan yaitu okinama. Kalau dilihat dari peta akan terlihat tuh. Hampir tiap kota propinsi sudah terhubungkan dengan rek ka. Artinya pergi ke propinsi manapun, bahkan tingkat kabupaten sekalipun sudah terhubungkan rel ka. Bahkan, antar pulau yang terbatasi laut juga sudah terhubung rel ka bawah laut, semisal pulau Honshu-Hokkaido, Honshu-Kyushuu, dan Honshu Shikoku.

bersambung

3.11 dan Pengalaman Pribadi (6 habis)

Hari ketiga adalah hari terakhir saya di Malaysia. Saya telah putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Jepang meski di Jepang terjadi bencana tsunami dan gempa. Saya tak ada pilihan lain. Saya pikir bencana ada di Sendai yang jauh dari Tokyo. Tokyo aman-aman saja.

Saya check in kira-kira pukul 10 dari hotel. petugas resepsionis amat ramah meski hanya di penginapan kelas melati. Saya titip barang karena saya mau cari makan dan bekal. Saya pikir saya perlu beli bekal makanan yang cukup banyak untuk persediaan di jalan, bahkan untuk nanti setelah tiba di Tokyo. Saya mampir ke mall dekat penginapan dan Mc D. Tak tanggung tanggung saya beli 8 humberger. Sebuah jumlah yang cukup banyak dan pertama kalinya seumur hidup beli burger sebanyak itu.

Saya naik taksi menujur bandara LCC Kuala Lumpur bandara pemberangkatan pesawat Air Asia. Hari itu cukup cerah, jalanan lengang dan lancar. Kiri-kanan terhampar ladang sawit. Rumah-rumah jarang terlihat dan masih cukup banyak hijau-hijauan. Pemandangan yang menyejukkan. Tanpa sengaja taxi melewati sirkuit balap FI Sepang. Saya minta supir taxi berhenti agar saya bisa ambil foto. Ternyata sirukuti yang saya pikir tidak terlalu bagus-bagus amat. Namun kenapa lebih dipercaya sebagai penyelenggaran F1 yang sudah berkali-kali. Sementara negera tetangganya sekalipun belum pernah.

Tibalah saya kembali di bandara Kuala Lumpur LCC. Saya check in dan masuk. Semua lancar hingga masuk pesawat. Penumpang cukup banyak. Umumnya orang Jepang. Saya berharap perjalanan lancar. Terus terang perasaan saat itu tidak karu-karuan. Cemas, kawatir, gamang jadi satu.

Kira-kira 6 jam dari KL akhirnya saya sampai di Haneda kira-kira pukul 10 malam dan setelah urus imigrasi dan tetek bengek baru keluar bandara pukul 10.45 malam. Saya terpaksa harus menginap karena dipastikan jam segitu tidak akan sampai ke asrama dengan kereta. Lagipula suasana bencana. Saya yakin masih banyak jalur belum sempurna jalan. Karenanya saya putuskan menginap di bandara. Malam itupun bandara tampak ramai dan penuh. Para penumpang tampaknya banyak pula yang menginap. Tidak tahu juga, bisa jadi punya pikiran sama dengan saya. Beruntung fasilitas ruang tunggu Haneda cukup nyaman. Terhampar kursi dari besi namun dudukkannya empuk. Saya putuskan rebahan dulu di situ. Saya harap tengah malam nanti sepi.Tak lupa saya nikmati humberger bekal yang saya beli di Malaysia tadi.

Saya akhirnya terlelap dan baru terjaga kira-kira pukul 3 pagi. Hawa ternyata tidak terlalu dingin meski itu bulan Maret yang masih dingin. Pengaturan suhu di bandara tampaknya cukup baik. Tak terasa subuh, dan saya putuskan untuk berangkat ke asrama.

Dari jendela monorel dari Haneda dan Hamamatsu saya saksikan suasana pagi yang cerah, bersih, dan indah. Dari kejauhan tampak matahari terbit dan pemandangan teluk Tokyo yang rapi, bersih, namun sepi. Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di Tokyo dengan lancar.

(Selesai)

3.11 dan Pengalaman Pribadi (5)

Hari Kedua praktis saya tidak melakukan apa-apa selain jalan-jalan di sekitar hotel dan Jumatan. Saya bersyukur Jumatan begitu terasa syahdu. Masjidnya besar, bagus, tempat wdhunya bersih, lapang, dan yang terpenting orang-orangnya khusyu. Untuk pertama kalinya saya menyaksikan Jumatan menggunakan slide LCD. Jadi apa yang disampaikan oleh Khotib tertulis juga pada layar LCD. Mirip layaknya kuliah.Hari itu khotib membahasa tema umum: memuliakan tetangga.

Yang lebih syahdu sehabis Jumatan banyak orang jualan makanan dadakan yang dijajakan di tenda/kedai atau mobil. Saya lupa nama makanannya, setahu saya mirip juga dengan berbagai jajanan yang ada di Indonesia. Saya beli nasi lemak dan teh tarik. Wah betapa beruntungnya. Murah meriah dan lezat. Saya saksikan orang sibuk melayani dan mereka amat ramah. Meski sekedar kedai kaki lima dadakan ternyata tertempel sertifikat halal. Bukan logo, namun berbentuk sertifikat. Jadi saya lebih yakin.

Terus terang Saya merasa bahwa di Malaysia spirit Islam jauh lebih terasa dari di Indonesia.Orang-orang terlihat lebih khusyu dan wanitanya kebanyakan terlihat memakai baju kurung. Meski pertama kali berkunjung namun saya merasa “dekat” dan “nyambung”. Mungkin karena saya Islam dan di Malaysia spirit Islam juga kuat bahkan lebih terasa dari Indonesia.

Setelah Jumatan saya kembali ke hotel yang baru saja saya inapi. Hotel ini cukup nyaman. Menurut juga cukup murah. Dengan harga kurang lebih 200 ribuan (untuk tahun 2011) di dalamnya sudah ada ac, tv, dan air panas. Sayang hingga ashar, saya masih belum bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Bukan karena di hotel tak ada wifi. Tetapi lebih karena laptop belum bisa nyambung wifi. Saya tidak tahu kenapa. Saya coba pindah dari kamar ke lobby pun belum bisa. Akhirnya saya mulai bosan. Kalau begini serasa kembali ke jaman batu dong,….hehehe. Saya tanyakan kembali internet cafe ke resepsionis. Merekapun tidak terlalu tahu di mana internet cafe berada.

Setelah magrib saya putuskan untuk cari internet. Saya coba jalan agak jauh. Di situ ada supermarket. Kebetulan ada sekumpulan taksi parkir. Taksi dengan mobil proton parkir berjajar di depan supermarket Nilai. Saya coba tanya pada salah satu supir, dan ternyata ia tahu dimana ada internet cafe. Alhamdulillah. Meski agak jauh ok-lah. Saya bilang akan pergi ke sana namun saya ijin untuk belanja dulu beli makanan sekedarnya baru ke sana.

Tak lama kemudian saya sudah di taksi menuju internet cafe yang diberitahu supir tadi. Moga-moga tidak diputer-puterkan saja. Jalananan kiri kanan lengang dan gelap. Serasa hanya dilewati satu mobil. Tak terlihat sama sekali sepeda motor. Tibalah saya di semacam ruko. Tampaknya seperti di daerah kampus. Terlihat ada banyak muda mudi layaknya mahasiswa. Ada pula lapangan basket dengan riuh pemain. Saya diturunkan depan persis internet cafe.

Ini dia yang dicari-cari. Akhirnya ketemu juga. Saya masuk dan mulai buka internet, dan yang saya buka pertama kali adalah: facebook. Iseng-iseng ingin tahu ada berita apa. Begitu saya buka dan amati, ….sekali lagi sy amati ada yang tidak beres. Di wall ada pesen istri saya mencari saya. Loh…loh…loh ada apa ini. Ternyata ada gempa dan tsunami di Jepang. Waduh ada apa ini. Saya kemudiaan cari info lebih lanjut, dan ternyata benar, Jepang dilanda tsunami dan gempa besar. Dan yang lebih mengagetkan itu terjadi pada tanggal 11 Maret 2011.Ya benar tanggal 11 Maret 2011 pukul 14.45.

Lho bukankah itu hari berangkat saya ke Jepang saat saya tertinggal pesawat? Masya Allah, akhirnya saya malah bersyukur dengan peristiwa tertinggal pesawat kemarin. Inilah hikmahnya. Coba kalau saya tetap berangkat. Jangan-jangan saya sekarang masih tertahan di bandara denan udara dingin, bawaan super gaban, dan yang parah lagi tanpa makanan.

Saya kemudian mencari berita lebih lanjut. Dari berbagai info di internet memang terlihat bagaimana parahnya Jepang dilanda gempa dan tsunami. Gelombang tinggi bergulung menerjang daratan. Rumah bangunan terlihat hanyut. Keadaan chaos dan semua tertahan di stasiun karena kereta berhenti. Siapapun yang melihat tentu kawatir dan cemas.

Kalau begini bagaimana nasib saya? Hal ini membuat saya pikiran dan bimbang apakah saya jadi ke Jepang. Malam itu saya kembali lagi ke hotel dengan segalam macam pikiran berkecamuk di kepala. Di satu sisi cukup senang karena inilah hikmah kemarin tertinggal pesawat. Senang pula akhirnya bisa mengabari keluarga di tanah air. Tentu saja mereka kawatir karena pasti menganggap saya sudah sampai di Jepang dan bagaimana nasibnya. Namun juga sedih, karena bagaimana nasib saya ke Jepang setelah ini. Saya putuskan istirahat dulu sembari menunggu kabar besok. (bersambung)

3.11 dan Pengalaman Pribadi (4)

Hari kedua di Malaysia saya isi acara bermalasan di penginapan. Hari itu hari Jumat jadi saya pikir saya harus temukan dulu masjid untuk Jumatan. Setelah tanya resepsionis, saya diberitahu kalau mesjid berada tak kurang dari 1 km dari penginapan. Saya pikir nanti saja menjelang Jumatan saya ke sana sambil cari.

Menu sarapan cukup lezat dan cocok di lidah. Saya semeja dengan orang Malaysia yang tampaknya seroang pegawai. Beliau katanya ada training, dan yang agak kaget yang memberi training adalah orang Jepang. Berarti ada orang Jepang pula menginap di penginapan yang sama. Tapi kok gak keliatan.

Pasca sarapan saya menunggu di lobby, siapa tahu tas berisi lap top saya segera datang. Namun hingga pukul 9 belum datang juga. Memang serasa di daerah terisolir tanpa sambungan internet. Internetnya ada namun tidak ada laptopnya sama aja boong. Sementara untuk internet cafe sendiri saya belum menemukan. Jadilah saya hanya tenguk-tenguk.

Tak sengaja akhirnya saya mengobrol dengan penerima tamu. Dan yang mengagetkan dia adalah ternyata siswa magang dari NHI Bandung. Wah betapa gembiranya saya, akhirnya dapat teman ngobrol. Serasa bertemu sodara jauh. Dia tampaknya juga gembira dan senang. Untung saja tidak terlalu banyak tamu sehingga kita bisa ngobrol lebih banyak. Saya ucapakan selamat bekerja di akhir percakapan.

Tak ingin kehilangan kesempatan, saya putuskan untuk jalan-jalan melihat suasana sekitar. Daerah tempat saya menginap ternyat bernama daerah “Nilai”. Ya nilai serasa lucu namanya ya. Daerah yang lengang, namun luas. Sejauh mata memandang masih tampak hutan hijau-hijauan, jalan-jalan yang lebar, gedung-gedung berbentuk kotak, dan supermarket. Suasana dan hawa saya pikir tak terlalu jauh dengan Indonesia. Bedanya itu tadi tampak lapang, lengang, dan luas. Juga saya pikir cukup bersih, dan tertata rapi. Pantas banyak pelancong Indonesia main ke sini. Tapi sekali lagi ini pasti masih belum Kuala Lumpur. Jadi tidak bisa membandingkan. Bisa jadi karena ini memang daerah pinggiran sehingga tampak lapang. Tapi untuk sementara waktu demikianlah image tentang pemandangan Malaysia di mana saya pernah singgah.

Tak berselang saya berjalan tanpa sengaja saya menemukan beberapa peningapan di dekat penginapan yang saya inapi sejak tiba. Saya coba isen-isen tanya, ternyata harganya lebih murah hampir setengahnya. Kalau penginapan yang saya inapi seharga 150 ringgit atau sekitar 450 ribu rupiah, maka di situ hanya 80 ringgit saja atau 250ribu an rupiah. Kalau bisa menginap di sini tentu saja bisa irit banyak. Akhirnya saya justru bergegas balik ke pengingapan awal. Saya putuskan untuk pindah ke situ saja, karena lebih murah, ada kamar kosong, wifi, dan air panas. Hanya mungkin fasilitas kamar, dan makanannya tak semewah hotel di awal.

Saya kemasi barang-barang, dan saya check out. Bersyukur laptop saya juga sudah balik. Terus terang pelayanan hotel cukup ramah. Saya cukup puas,…..tapi lebih puas lagi kalau dapat harga lebih murah hehehe…………… Saya pindah dengan menggunakan taksi. Kalau tak salah bayar taksinya cuma 10 ringgit alias Rp.30.000 saja. Saya pikir harga segitu biasa saja karena jaraknya juga dekat cuma mungkin 500m.

Hore…..saya pindah di penginapan/hotel lebih murah. Bentuknya masih hotel, hanya lebih sederhana. Saya tak tahu terlihat kok banyak orang India, puluhan bahkan seratusan sedang antri makan. Dari penampakkannya kelihatan kumal, tak ubahnya TKI kelas buruh dan pembantu. Jangan-jangan TKI dari India kah, atau Pakistan. Sudahlah bukan urusan saya. Saya segara saja berbegas ke kamar. Dan saya harus segara bergegas juga untuk Jumatan.

(bersambung)

3.11 dan Pengalaman Pribadi (3)

Saya cukup lega karena hotel dekat bandara memiliki rekanan, atau afiliasi penginapan dengan harga yg lebih murah. Meski agak jauh sekitar 25 km saya setujui saja krn, lagi lagi saya tidak tahu medan.

Harus diakui saya merasa antara excited, sedih, senang, atau lega bercampur aduk jadi satu. Excited jelas, krn saya memang baru pertama kali ke Malaysia. Tak terpikirkan sama sekali cita cita, impian menginjakkan kaki di negeri ini, namun tiba-tiba sekarang ada di sini. Sedih karena masih terbawa ingatan dan emosi saat tertinggal pesawat tadi. Tak terbayangkan kalau kejadian tadi diceritakan ke keluarga atau tetangga di rumah. Tentu mereka akan bilang: apes men le…..hehehe. senang dan lega, karena ya itu tadi masih dapet tiket pengganti, bisa dapet penginapan, dan yang pasti masih pegang uang.

Ok lah mari kita nikmati. Syukuri saja apa yang ada. Saya dia
ntar supir hotel ke hotel afiliasi dengan membayar 50 ringgit atau kira 150 ribu rupiah untuk jarak 25 km. Saya pikir masih wajar wajar saja.

Hari sudah sore tepatnya ashar menjelang maghrib. Tak disangka jalan cukup lebar dan lengang. Dua arah jalan kalau disatukan barangkali  lebarnya 50m dengan masing masing arah 25m. Karenanya tak heran bila Mobil dipacu dengan cukup kencang 80km per jam-an. Saya pikir dengan jalan lebar dan lengang seperti itu kecepatan sekian wajar wajar saja.

Tak lupa saya ngobrol dengan supir. Ia masih seumuran 20 tahunan, enerjik dan ramah. Dia kaget ketika tahu saya orang Indonesia. Dan lebih kaget lagi ketika tahu saya mau pergi untuk belajar ke Jepang. Mungkin pikirnya orang Indonesia hanya tki…..hehehe. Kata kata nya yang saya ingat dia bilang, “Mas pintar……”. Hehehe masa iya sih begitu pikir saya.

Sepanjang jalan yang tampak hanya ladang sawit yang berada di kiri kanan jalan.  Hanya sedikit tampak rumah rumah penduduk. Sepi. Muncul pertanyaan nakal, kalau selama ini Malaysia kita anggap rival Indonesia, di mana sih kelebihannya? Namun tanpa harus berpikir sulit sulit saya pikir di situlah kelabihannya. Malaysia masih cukup lengang dan luas bro
. Bayangkan saja jumlah penduduknya cuma 28 juta. Semantara lahannya kalau disatukan semua seluas Sumatra. Saya pikir Malaysia bukan tandingan Indonesia dengan 250juta penduduk. Agak naif sebenarnya kalau Indonesia membandingkan dirinya dengan Malaysia.

Tak terasa 30 menit berlalu dan sampailah saya di penginapan. Hari telah petang. Penginapan yang cukup megah di antara beberpa bangunan. Alhamdulillah, akhrinya selesai juga berbagai kejutan hari ini. Tapi eitts…..ternyata masih ada kejutan lagi. Tas laptop saya kok nggak ada. Tuinggg……..waduh kejutan apa lagi ini. Akhrinya saya lari ke bawah menmui supir yang antar tadi. Syukur masih ada. Saya titip pesan dia untuk cek di hotel bandara tadi, dan kalau ada saya minta tolong untuk mengabari ke penginapan ini. Dia menyanggupi. Ternyata keinginan untuk lega sejenak masih belum tercapai 100%. Akhrinya saya harus bersabar lagi sambil berdebar debar apakah laptop saya benar benar ada.

Hari makin malam. Kira kira jam 8 malam ada telpon masuk dari resepsionis, laptop saya ada. Akan diantar besok. Alhamdulillah,…….akhrinya saya bisa istirahat tenang. Hingga detik itu saya masih belum dapat maupun menrima kabar apa apa tentang apa yang terjadi di Jepang, saya yang berada di Malaysia, dll. Saya pikir besok saja tunggu laptop datang karena mau pakai apa untuk kontak ke sana kemari meski ada wifi. ***

3.11 dan pengalaman pribadi (2)

Pertanyaan pertanyaan itulah yang menyeruak di kepala. Saya coba pergi ke counter AA menyakan tiket kembali ke Juanda Surabaya. Hasilnya harga tiket 1juta. Saya kembali pikiritu belum tiket kembalinya lg ke Kl. Bisa bisa dua jutaan. Kemudian saya coba pikir untuk membandingkannya bila tinggal di KL sampai berangkat. Jangan-jangan sama. Kalau sama ya mending di KL saja. Cuma masalahnya saya belum pernah masuk ke Malaysia khususnya KL. Bukankah sama sj seperti hutan belantara. Jadi serba bingung. Karena kalaupun tinggal mau tinggal di hotel mana juga mana tahu. Tapi ya sudahlah saya putuskan cari mushola untuk sholat Ashar dan menenagkan pikiran. Siapa tahu ada ide. Sambil jalan saya benar benar tidak habis ngerti dengan apa yang terjadi. Ketinggalan kok ketinggalan pesawat. Ketinggalan bis atau kereta api masih mending lha ini pesawat. Untung saja tiket ke Jepang diganti meski harus tunggu tiga hari. Gimana kalau tidak. Bagus benar nasib saya hari itu, begitu pikir saya.

Hari itu bandara lcc Kl cukup cerah dan ramai. Hawa cukup panas juga. Setelah istirahat beberapa lama di mushola, saya beruntung dapat teman ngobrol orang Malaysia. Keliatanya seperti teknisi bandara karena menggunakan baju seragam. Dari dia saya disarankan nginap di hotel bandara yang letaknya 500m dan berharga murah. Wah ini dia info bagus begitu pikir saya. Dari situ akhirnya saya putuskan untuk coba ke sana.

Dengan jalan kaki saya menuju hotel yang diinfokan tadi. Yah gak papalah tiga hari nginep di hotel di Malaysia. Idep-idep jalan-jalan. Untung saja saya bawa cukup uang. Uang beasiswa untung saja sudah saya terima sebagian. Tak lama saya tiba di hotel. Hotel yang cukup megah meski bukan hotel bintang lima sepertinya.

Setelah tanya ke resepsionis ternyata hotel penuh. Ya penuh. Wah bagus lagi pikir saya. Namun petugas resepsionis memberi solusi. Ia tawarkan hotel lain lebih murah namun jaraknya 30km an dr hotel itu. Ya apa boleh buat saya hanya terima saja. Toh saya juga tidak tahu medan.

(bersambung)

3.11 dan Pengalaman Pribadi (1)

3.11 (san ten ichi ichi) adalah istilah untuk menyebut tanggal terjadinya gempa dan tsunami besar yang terjadi tepatnya pada 13 Maret 2011 di Jepang. Gempa dengan skala 9 dan tusnami dengan ketinggian rata-rata 10m telah meluluhlantakkan sebagian besar pesisir Timur pantai Jepang. Ribuan rumah hanyut, terbakar, infrastrukutur rusak dan tak kurang ribuan orang meninggal dan mengungsi. Puncak dari bencana ini adalah terjadinya kebocoron nuklir pada pembangkit nuklir di Fukushima.

Yang ingin saya ceritakan sebenernya bukanlah peristiwa 3.11 nya sendiri. Melainkan kisah pribadi yang tidak berkaitan secara langsung dengan peristiwa itu yaitu bahwa sebenarnya tanggal itu pula merupakan tanggal saya berangkat ke Jepang untuk menempuh studi lanjut.

Singkat cerita, tibalah 11 maret 2011 hari bagi saya untuk berangkat ke Jepang. Semua sudah disiapkan termasuk tiket dan visa. Pagi itu suasana di Surabaya biasa dan normal normal saja. Saya diantar keluarga di bandara Juanda. Ada perasaan sedih meninggalkan keluarga terutama anak saya. Ada begitu banyak barang bawaan yang saya bawa karena saya berencana tinggal lama. Namanya juga studi. Selain koper besar berisi barang standar saya juga bawa dua tas lagi. Satu tas kerja isi laptop dan satu tas lagi tas jinjing isi bumbu dan bahan makanan. Seingat saya, ada bawang merah dan putih juga yg jumlahnya cukup banyak. Karena saya pikir di Jepang tentu amat mahal.

Pesawat yang saya tumpangi adalah Air Asia jurusan Juanda Surabaya Kuala Lumpur. Pesawat ini saya pesan karena pertimbangan harga tiketnya yang murah. Saya pesan tiket nya melalui internet. Harga yang saya dapat saat itu adalah 30.000yen (3juta-an rupiah) utk total sekali jalan dari Surabaya-Tokyo Jepang. Bandingkan misalnya dengan Garuda yang berharga minimal 50.000 (5juta-an rupiah) atau maskapai asing lain seperti JAL atau SQ yang bisa samapai minimal 80.000yen sekali jalan. Hanya saja kelemahannya, Air Asia tidak bisa langsung ke Tokyo, namun harus transit dulu di Kuala Lumpur (KL). Selaini itu, karena saat itu belum ada tiket terusan, tiketnya tidak bisa langsung, artinya harus beli tiket sendiri-sendiri, yaitu dari Surabaya ke Kuala Lumpur (KL), dan dari KL ke Tokyo. Konsekwensi dari cara ini adalah saat transit di KL penumpang harus keluar melalui imigrasi, ambil barang, lalu masuk lagi. jadi cukup merepotkan. Tetapi saat itu yang ada di pikiran saya adalah mendapat tiket murah repot sedikit tak apa.

Singkat cerita saya tiba di KL dan tak ada masalah apa-apa. Hingga tiba saat saya harus antri imigrasi keluar bandara. Imigrasi ternyata cukup panjang. Di sinilah saya mulai cemas saat itu. Akan cukupkah waktu untuk check in kembali ganti pesawat ke Jepang. Tapi saya coba tenang-tenang saja. Saya tidak ingat berapa sisa waktu untuk itu. Tapi saya pastikan pendek, dan saya tidak berani lihat jam. Benar-benar merepotkan. Saya harus antri panjang imigrasi, dan kembali antri ambil barang. Setelah itu saya harus bergegas masuk kembali ke terminal keberangkatan ke Jepang.

Inilah barangkali yang point masalah yang saya ceritakan. Saat saya di depan counter check in Air Asia ke Jepang petugas mengatakan kalau check in sudah ditutup. What???? Sudah ditutup? Ya, check in sudah ditutup 30 menit yang lalu begitu kata petugas Air Asia perempuan. Waduh serasa dunia gelap bagi saya. Lalu bagaimana nasib saya? Saya benar-benar cemas, kesal bercampur aduk jadi satu. Saya bilang kalau pesawat datang terlambat hampir sejam dari Juanda Surabaya. Petugas bilang kalau saya harus menghubungi counter Air Asia ke Juanda. Maka bergegaslah dengan berlarian saya ke sana sambil bawa troli penuh bawaan. Saya komplain keterlambatan dari Surabaya, dan minta solusi utk pesawat ke Jepang yang sudah tutup check in. Namun petugas tidak bisa beri solusi apa dan menyuruh saya kembali ke counter AA yang ke Jepang. Berlarianlah kembali ke counter AA ke Jepang. Di situ saya kembali bertemu mak cik petugas yang tadi. Saya komplain, dan campur mengiba juga. Saya bilang “bagaimana mak cik nasib saya?”. Di situlah saya mendapat pelajaran baru tentang pesan tiket. Dia bilang kalau saya memesan tiket dimana antara kedatangan pesawat pertama dan keberangkatan pesawat berikutnya terlalu dekat. Mestinya selisihnya 3 jam. Bagitu kata petugas. Akhirnya petugas bilang kalau dia tidak bisa mengganti dengan pesawat maskapai lain. Kalau mau bisanya dengan sesama AA namun keberangkatan terdekat baru ada 3 hati kemudian. Saya tidak bisa papa, apa boleh buat tak ada pilihan lain. Inilah permasalahan kedua yang terjadi. Karena artinya saya harus tunggu tiga hari lagi untuk berangkat ke Jepang. Lha kalau nunggu, masalahnya dimana saya harus menunggu? Haruskah saya nginap di Bandara? Kalau pulang ke Surabaya lalu kembali lagi ke KL 3 hari kemudian berapa biayannya? (bersambung)